Kemampuan berbicara sering kali dianggap sebagai pencapaian besar dalam perkembangan anak, namun prosesnya telah dimulai jauh sebelum kata pertama terucap. Antara usia 0 hingga 12 bulan, bayi secara aktif menyerap dan memproses suara, ritme, dan struktur percakapan, membangun Fondasi Bahasa yang kokoh. Periode ini, yang dikenal sebagai tahap pralinguistik, adalah waktu emas di mana interaksi sehari-hari orang tua menjadi kurikulum utama. Kesalahpahaman umum adalah bahwa bayi hanya perlu mendengarkan; sebaliknya, mereka membutuhkan komunikasi dua arah, meskipun respon mereka hanya berupa cooing (celotehan) atau gerakan tubuh. Mengajak bayi berkomunikasi secara efektif sebelum mereka berbicara adalah kunci untuk mempercepat perkembangan kognitif dan sosial mereka.
Strategi pertama dan paling penting adalah Parentese atau Motherese. Ini adalah cara berbicara khusus yang menggunakan nada tinggi, intonasi yang dilebih-lebihkan, dan pengucapan yang lebih lambat. Studi yang dilakukan oleh tim peneliti di Laboratorium Linguistik Anak, Universitas Pelita Bangsa, pada akhir bulan April 2024, menemukan bahwa bayi yang terpapar parentese secara teratur menunjukkan pemrosesan suara vokal yang lebih cepat dibandingkan bayi yang hanya mendengar ucapan orang dewasa normal. Dalam studi ini, data dikumpulkan selama 90 hari melalui perekaman audio interaksi harian dari 60 keluarga peserta. Parentese membantu bayi membedakan suara dan suku kata, yang merupakan elemen vital dalam pembangunan Fondasi Bahasa.
Selain Parentese, keterlibatan aktif dalam Turn-Taking atau bergantian berbicara sangat krusial. Ketika bayi membuat suara (celotehan atau tawa), berikan respons seolah-olah mereka baru saja menyampaikan ide yang kompleks. Misalnya, jika bayi mengeluarkan bunyi “ga-ga,” respons Anda bisa berupa, “Oh, kamu sedang cerita tentang mainan gajahmu, ya?” Kemudian tunggu responsnya. Interaksi yang terjadi berulang ini mengajarkan bayi konsep percakapan, yaitu bahwa komunikasi melibatkan pengiriman dan penerimaan pesan. Penting untuk melakukan kegiatan ini pada waktu-waktu rutin, seperti saat mengganti popok atau mandi, yang sering terjadi pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB dan sore hari menjelang tidur.
Strategi berikutnya adalah Deskripsi Bahasa (Labelling). Orang tua harus secara eksplisit mendeskripsikan setiap objek, tindakan, dan emosi yang terjadi di sekitar bayi. Ketika Anda memberikan bola, ucapkan “Ini bola. Bola besar dan merah.” Saat Anda memakaikan jaket, sebutkan, “Ibu sedang memakaikan jaketmu. Jaket hangat.” Kegiatan ini secara langsung memperkaya kosakata pasif bayi, meskipun mereka belum bisa mengucapkannya. Memperkuat Fondasi Bahasa melalui labelling juga mencakup pembacaan buku bergambar. Disarankan untuk menghabiskan setidaknya 15 hingga 20 menit per hari untuk membacakan buku, meskipun bayi hanya fokus pada gambar dan bukan cerita.
Mengintegrasikan strategi komunikasi ini ke dalam rutinitas harian orang tua sangat membantu. Dengan konsistensi dan kesabaran, orang tua menciptakan lingkungan yang kaya bahasa. Proses yang berkesinambungan ini memastikan bahwa ketika bayi akhirnya siap untuk berbicara, mereka telah memiliki gudang pengetahuan leksikal dan pemahaman struktural yang kuat. Ini adalah bukti bahwa komunikasi adalah fondasi utama pendidikan dini.