Di dunia yang semakin kompleks, kemampuan mengelola uang adalah keterampilan hidup fundamental yang sama pentingnya dengan membaca dan menulis. Pendidikan ini harus dimulai sejak dini, idealnya pada usia Sekolah Dasar (SD), saat anak mulai memahami konsep pertukaran dan nilai. Mengajarkan Literasi Keuangan pada anak bukanlah tentang mengajaknya berinvestasi saham, melainkan menanamkan kebiasaan yang bertanggung jawab seperti menabung dan membuat keputusan belanja yang bijak. Literasi Keuangan yang kuat akan membekali mereka menghadapi tantangan ekonomi di masa depan, mencegah masalah utang, dan memungkinkan mereka mencapai tujuan finansial. Peran orang tua sebagai guru pertama dalam hal ini sangat menentukan.
Langkah pertama dalam menanamkan Literasi Keuangan adalah memperkenalkan konsep uang saku sebagai alat belajar, bukan sekadar hadiah. Uang saku sebaiknya diberikan secara konsisten, misalnya setiap Minggu pagi, dengan jumlah yang disepakati (misalnya, Rp 10.000 per minggu untuk anak kelas 3 SD). Penting untuk membagi uang saku ini ke dalam tiga kategori: Belanja, Tabung, dan Donasi. Anak harus didorong untuk mengalokasikan sebagian uangnya untuk menabung. Sebagai contoh, di SDN Harapan Bangsa, Jakarta Timur, sejak Tahun Ajaran 2024/2025 diterapkan program tabungan sekolah wajib, yang didukung oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Pendidikan, di mana siswa dianjurkan menabung minimal Rp 2.000 setiap hari Selasa. Ini mengajarkan mereka bahwa menabung adalah prioritas, bukan sisa dari pengeluaran.
Langkah kedua adalah mengajarkan konsep “menunggu” dan “perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.” Ketika anak menginginkan mainan yang mahal, jangan langsung membelikannya. Sebaliknya, ajak anak menghitung berapa minggu yang dibutuhkan untuk mencapai target harga mainan tersebut dari uang tabungannya. Misalnya, jika harga mainan itu Rp 50.000, dan anak menabung Rp 3.000 per minggu, mereka akan membutuhkan waktu sekitar 17 minggu. Proses penantian ini, yang didokumentasikan dalam buku tabungan atau jurnal keuangan kecil, mengajarkan kesabaran finansial. Menurut hasil workshop edukasi keuangan bagi orang tua yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 16 November 2024 di kota Bandung, praktik penundaan kepuasan (delayed gratification) ini terbukti meningkatkan kemampuan anak dalam membuat keputusan pembelian yang lebih rasional di kemudian hari.
Selain menabung, penting juga untuk menunjukkan kepada anak bahwa uang bisa bekerja. Libatkan mereka dalam memilih celengan transparan agar mereka bisa melihat progres tabungan mereka. Setelah tabungan mencapai target tertentu, ajak anak pergi ke bank untuk menyetorkannya. Melihat teller bank (misalnya, Ibu Ani Wijaya) mencatat jumlah besar di buku tabungan mereka memberikan validasi fisik atas usaha menabung yang telah dilakukan. Dengan melibatkan anak secara langsung dalam mengelola uang, membeli barang dengan uang hasil tabungannya, dan bahkan berdonasi untuk tujuan sosial, orang tua telah berhasil menanamkan dasar Literasi Keuangan yang akan membentuk kebiasaan finansial yang sehat seumur hidup, jauh melampaui bangku sekolah.